Mulai Berhentilah Bertanya " Kapan Menikah " Kepada Wanita Lajang ! | Wanita

0
__________________________________________________________________


Menikah, belum menikah, atau tidak menikah merupakan pilihan hidup seseorang yang tak perlu diperdebatkan, atau yang lebih parah, dipertanyakan!


Berbagai latar belakang bisa mendasari keputusan seorang wanita mengulur waktu untuk berumah tangga, mulai dari isu kesehatan, trauma masa kecil, kegagalan pernikahan orangtua, karier yang tersendat, dan masih banyak lagi. Sebaiknya Anda dan orang lain di dunia ini diam dan urus kehidupan masing-masing saja.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang acap kali membuat banyak wanita lajang tersinggung dan merasa tak percaya diri:

Mengapa kamu masih lajang?
Ini adalah pertanyaan paling umum yang sering dikemukakan kepada wanita lajang, terutama mereka yang berusia di atas 30 tahun. Kemudian, pertanyaan terus berlanjut bak wawancara kerja yang tidak nyaman karena sarat unsur investigasi.

Pernahkah Anda berpikir bahwa mereka pun sering bertanya-tanya kepada diri sendiri mengenai penyebab belum juga bertemu dengan pasangan yang cocok dan kompatibel?

Apakah kamu terlalu pemilih?
Wanita memiliki harapan tersendiri terhadap pasangan yang akan menjadi teman hidupnya. Pertanyaan seperti ini cenderung ofensif, dan seperti menuduh mereka memiliki standar yang terlalu tinggi. Padahal, tak selalu demikian.

Kamu cantik, tapi kenapa...?
Pertanyaan seperti ini mengandung asumsi dan prasangka, serta memancing wanita lajang untuk membeberkan kepedihan hati yang tak ingin lagi mereka bicarakan.

Kapan menikah?
Pertanyaan “sejuta umat” ini seperti alarm usang yang efektif meruntuhkan rasa percaya diri. Sebab, pada dasarnya, bukan urusan Anda kapan dan dengan siapa mereka akan menikah nanti. Lagi pula, jika mereka menggelar pesta pernikahan, apakah Anda akan membantu meringankan kesulitan yang mereka hadapi? Belum tentu!

Apakah kamu penyuka sesama jenis?
Pertanyaan paling ekstrem ini jangan pernah Anda tanyakan kepada wanita lajang, meskipun mereka sahabat atau keluarga sendiri. Zaman memang telah bergulir maju, begitu juga dengan pola pikir sejumlah besar orang. Namun, masih banyak anggota masyarakat Indonesia yang menganggap tabu isu LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender).





Sumber : Boldsky
Penulis : Fadhla Audina
Editor : Via Pramushinta
__________________________________________________________________

Post a Comment

 
Top